Pangeran Impian

 

 

bukit-bukit itu masih menghijau

tak ada deru yang memecahkan telinga

derai air mataku pun mulai mengering

berganti dengan riakkan air yang menghanyutkan

 

erat genggaman jemari ini menyentuhmu

penuh dengan rasa tulus

dan dengan sebuah harapan

 

asa itu berubah menjadi sebuah imajiner

melantunkan syair-syair permohonan

yang mungkin terlalu menawan

seperti bunga seroja

 

terkadang aku tak terima dengan sebuah perbedaan

 

hal yang mustahil untuk dicapai

itu hanya membuatku lelah

menantang dunia yang penuh darah

dan terdapat beribu-ribu masalah

 

lambat laun dunia pun mulai berubah

seperti rasa ini yang tak bisa terus dipendam

 

“Kau impanku!”

terus mendengung bagai guntur

 

“Kau pangeranku!”

berasa aku adalah kekasihmu

 

“Kau pangeran impianku!”

berlanjut ke stadium akhir versi idola

dan berhenti bila kau mau menerima

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s