Two Wives

 

 

Author: VipeR Яed
Title: Two Wives
Main Cast: Choi Minho (SHINee)
Other Cast:

  • Lee Yoora
  • Shin Min Gi
  • Lee Chi Hoon (Ulzzang Boys)
  • Kim Ryeo Wook aka Ryeowook (Super Junior)
  • Kim Jong Woon aka Yesung (Super Junior)

Genre: Friendship, Romance, Comedy
Length: Oneshot
Rating: PG 15

 

 

 

 

 

 

 

(Minho POV)

 

Susis~ Wowowo susis~ Suami sieun istri~

 

“Yoboseo?”

 

“Minho Oppa! Kau dimana?” Suara cempreng di ujung seberang sana sukses membuatku menjauhkan ponsel dari telingaku. “Minho Oppa! Yoboseo?! OPPA MENDENGARKAN AKU TIDAK?!”

 

Aisshhh, benar-benar yeoja gila. Saat ponsel kujauhkan dari telingaku suaranya masih saja terdengar menusuk gendang telinga.

 

“Ya! Tidak usah berteriak seperti itu! Kau ingin membuat telingaku tuli, hah?!”

 

“YA! Tidak usah protes! Jawab saja pertanyaanku, Oppa sekarang dimana?”

 

“Di Cafe miliknya Chi Hoon.”

 

“Aku akan kesana sekarang.”

 

Tut… Tut… Tut…

 

“Dasar yeoja aneh,” gumamku setelah memasukkan ponselku ke dalam saku.

 

“Dari Min Gi, eh?” tanya Lee Chi Hoon yang sedari tadi menemaniku.

 

“Ne,” jawabku. Aku menyesap mocca-ku.

 

“Apa yang dia katakan?”

 

“Sebentar lagi dia akan menyusulku kesini.”

 

“Untuk apa?”

 

Aku mengedikkan kedua bahuku. “Molla, aku sendiri juga tidak tau.”

 

“Apa dia curiga?” tanya Chi Hoon sambil menopang dagu dengan tangan kirinya, kebiasaannya yang sangat kubenci.

 

“Kurasa tidak,” jawabku seraya kembali menyesap mocca-ku.

 

“Setidaknya kau harus berhati-hati, Minho-ya,” ujar Chi Hoon yang tampak begitu khawatir.

 

Aku tersenyum tipis. “Kau tenang saja, Hoonroro. Ini adalah keahlianku.”

 

“Aku tau itu. Tapi bagaimana jika nanti rahasiamu terbongkar?”

 

“Tidak akan pernah selagi kau tidak membongkarnya.”

 

“Tidak mungkin aku melakukan itu padamu, Minroro. Aku hanya khawatir jika itu sampai terjadi.”

 

Kutepuk bahu kanan Chi Hoon dengan pelan. “Aku percaya padamu. Sudahlah, kau tak usah mengkhawatirkanku. Ini semua akan baik-baik saja.”

 

 

*

 

 

(Author POV)

 

Seorang yeoja berambut pendek sibuk menendang kerikil yang tidak salah apa-apa. Tangannya terkepal dan sesekali meninju jok Hatari, motor ninja kesayangannya yang ia modif sedemikian rupa sehingga menjadi unik.

 

Yeoja itu mendesah panjang. “Aigo, bagaimana bisa mesin Hatari mendadak mati seperti ini? Lalu dengan apa aku pulang? Naik bus? Andweee, aku benci naik bus!” oceh yeoja itu sambil mengacak rambutnya yang tidak gatal.

 

Setelah sepuluh menit yeoja itu uring-uringan sendiri, ia akhirnya mengambil ponsel dari saku jeansnya kemudian menekan lama angka 1. Tak lama kemudian terdengar nada sambung yang membuat yeoja itu ingin muntah ketika mendengarnya.

 

“Yoboseo,” terdengar suara alto namja dari seberang telepon.

 

“Ya, Oppa! Kenapa nada sambung pribadi Oppa masih lagunya Sule?!” protes yeoja berambut pendek itu.

 

“Kau meneleponku hanya ingin berkata seperti itu, eh?”

 

“Anni. Tapi aku benci nada sambung pribadimu, Oppa. Apa tidak ada lagu lain selain Susis, huh?!”

 

“Ya, jangan menghina. Itu lagu favoritku!” seru namja di seberang telepon tidak terima.

 

“Seleramu payah, Oppa.”

 

“Ya! Apa kau hendak mengajakku bertengkar lagi, Yoora-ya?!”

 

Yeoja yang dipanggil Yoora yang tak lain ialah yeoja berambut pendek pun berdecak kesal. “Sudahlah Oppa, aku tidak ada waktu untuk meladeni Oppa. Sekarang cepat ke kampusku. Mesin Hatari mati dan aku harus segera pulang jika tidak ingin di tinggal Appa dan Eomma ke Jepang. Ppali, jangan sampai terlambat.”

 

Yoora segera mengakhiri obrolannya di telepon tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya.

 

 

*

 

 

(Minho POV)

 

“Sudahlah Oppa, aku tidak ada waktu untuk meladeni Oppa. Sekarang cepat ke kampusku. Mesin Hatari mati dan aku harus segera pulang jika tidak ingin di tinggal Appa dan Eomma ke Jepang. Ppali, jangan sampai terlambat.”

 

Tut… Tut… Tut…

 

“Yoora-ya! Ya, Lee Yoora! Yoboseo?!”

 

Omo, bagaimana bisa dia memutuskan sambungan tanpa meminta jawaban dariku. Apalagi tadi dia sempat menghina lagu favoritku, huh.

 

Aku mengacak rambutku frustasi. Seperti orang lupa akan kesadarannya, aku menggebrak meja dengan kesal. Chi Hoon tersentak kaget dan bisa kulihat tatapan aneh dari para pengunjung Cafe yang melihatku seakan-akan mereka berfikir, “Apa yang sedang orang gila itu lakukan?” Hah, aku benar-benar tidak peduli.

 

Segera aku beranjak dari dudukku dan bergegas melangkah pergi. Tapi belum ada lima langkah, langkahku terhenti begitu mendengar suara namja yang sangat familiar di telingaku memanggilku. Kubalikkan badanku dan mendapati namja yang memanggilku tadi terlihat begitu khawatir.

 

“Mau kemana kau, Minho-ya?”

 

Pertanyaannya seperti ibu-ibu yang sedang menghawatirkan anaknya saja, tsk.

 

“Menjemput Yoora di kampusnya,” jawabku datar.

 

“Mwo?!” Kulihat matanya yang sipit membulat. “Lalu bagaimana dengan Min Gi? Sebentar lagi dia akan datang kesini.”

 

“Kali ini aku minta tolong padamu lagi, Hoonroro. Kau bilang saja kalau aku baru saja pulang ke rumah karena mendapat telepon dari Eomma. Arra?” jelasku padanya sambil mengedikkan mata kananku.

 

“Ya, jangan mengedikkan matamu seperti itu!” protes Chi Hoon.

 

Aku tertawa renyah. “Kau tidak bisa menolak bukan kalau aku melakukan itu?”

 

“Aiishh, kau ini! Ya sudah, cepat pergi sebelum Min Gi sampai kesini,” ucapnya sambil mendorongku keluar dari Cafe.

 

“Ya! Kau seperti security yang sedang mengusir pelanggan gila saja!” ucapku kesal karena kelakuan sahabatku, Lee Chi Hoon.

 

“Ssstt, sudahlah kau tak usah banyak protes. Ppali, sebelum Min Gi datang kau harus lenyap dari sini.”

 

Ya! Dia pikir aku setan yang harus segera dienyahkan dari muka bumi? Sial, bagaimana bisa aku mempunyai sahabat aneh seperti Lee Chi Hoon.

 

“Ne ne ne, aku akan segera pergi. Kau puas?!” seruku kesal setengah mati.

 

Chi Hoon hanya nyengir kuda. “Ppali, huss huss huss!” Ia mengibas-ngibaskan kedua tangannya seperti mengusir ayam yang ingin berak di beranda rumahnya.

 

Aku melotot ke arahnya sebelum benar-benar pergi dari Cafe.

 

 

*

 

 

(Min Gi POV)

 

Dalam perjalanan menuju Cafe miliknya Lee Chi Hoon, senyumanku terus mengembang bagaikan kue bolu yang sedang di oven. Aku sudah tak sabar bertemu dengan Minho Oppa, namjachinguku. Sudah satu minggu lebih aku tidak bertemu dengannya, padahal aku dan Minho Oppa satu universitas. Hanya beda jurusan saja.

 

Memang akhir-akhir ini kami sering disibukkan oleh banyaknya tugas yang datang dari dosen-dosen berkepala botak yang menurutku kurang kerjaan. Bayangkan saja, untuk apa mereka menyuruh kami mengerjakan tugas yang belum tentu kami bisa kerjakan. Padahal mereka sendiri sudah pasti bisa mengerjakannya, untuk apa menyuruh orang lain mengerjakannya? Benar-benar kurang kerjaan.

 

Teoriku benar bukan? Hehe.

 

Setelah lima belas menit aku mengemudi, akhirnya mobilku sampai juga di pelataran Hoonroro’s Cafe yang tak lain ialah Cafe miliknya Lee Chi Hoon.

 

Aku memarkirkan mobilku di tempat parkir. Sebelum turun, aku mematikan mp3 di dashboard yang selama di perjalanan mengalunkan lagu-lagu dari SHINee yang memang menjadi favoritku.

 

Dengan perasaan senang karena sebentar lagi aku akan bertemu dengan Minho Oppa, kulangkahkan kakiku menuju Cafe. Tanpa kusentuh handle nya, pintu Cafe itu terbuka sendiri dan berbunyi ‘Pika’. Keren sekali bukan?

 

Kuedarkan pandanganku ke sekeliling Cafe, tapi tak kutemui batang hidung Minho Oppa. Seperti orang gila, aku celingukan mencari keberadaannya. Sampai-sampai aku baru menyadari ada seorang namja berdiri di depanku.

 

“Sedang apa kau? Seperti orang babo saja celingukan begitu,” ledeknya yang berhasil membuatku malu.

 

“Ah, kau rupanya. Aku mencari Minho Oppa, apa kau melihatnya?” tanyaku.

 

“Dia sudah pergi,” jawabnya.

 

Mataku membulat seketika mendengar jawabannya. “Mwo?! Bagaimana bisa?”

 

“Kau mau tau?”

 

“Tentu saja.”

 

“Kalau begitu duduk dulu. Tak enak jika kita berbicara sambil berdiri dan menjadi tontonan pengunjung.”

 

Ia menggandeng tanganku dan membawaku ke sebuah meja kosong yang berisi dua kursi. Aku duduk di salah satu kursi sedangkan dia duduk di kursi yang satunya lagi.

 

“Kenapa Minho Oppa pergi, Chi Hoon-ssi?” tanyaku to the point.

 

“Eomma Minho tadi meneleponnya dan menyuruhnya untuk segera pulang. Sepertinya ada yang ingin Ahjumma bicarakan pada Minho, dan sepertinya itu masalah penting,” jawabannya berhasil membuatku lemas seketika.

 

Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Kini aku seperti vampir yang haus akan darah manusia.

 

“Ya, kau jangan marah padanya!” ucap Chi Hoon yang nampaknya mengetahui perubahan raut wajahku.

 

“Awas saja kau, Minho Oppa! KUBUNUH KAU!”

 

 

***

 

 

(Author POV)

 

Minho membenarkan letak headsetnya dan mulai mengutak-atik sesuatu pada i-podnya. Ia mendengarkan lagu favoritnya di playlist “Dangdut Favorite” secara random. Kakinya ia langkahkan menuju kantin. Bibirnya berkomat-kamit menirukan syair dari lagu yang bermain di i-podnya dan sesekali kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah, bakan kadang kepalanya berputar-putar mengikuti alunan musik dari i-podnya.

 

“MINHO OPPA!”

 

Di ujung lorong terlihat yeoja yang berlari sambil meneriakkan nama Minho. Tentu saja Minho tak mendengarnya karena ia memaksimalkan volume i-podnya. Hal itu membuat yeoja yang meneriakkan nama Minho mulai kesal. Yeoja itu mempercepat larinya dan akhirnya dengan nafas tersengal-sengal ia bisa mendapati Minho.

 

Yeoja itu kembali memanggil Minho tapi tetap saja Minho tak mendengarnya. Dengan perasaan kesal, akhirnya yeoja itu memutuskan untuk mencubit pinggang Minho.

 

“Aww!!” rintih Minho, ia membalikkan badannya hendak mengetahui siapa yang lancang mencubit pinggang seksinya itu. “Kau?!”

 

Yeoja itu melotot tajam. “Ne, ini aku. Kenapa reaksi Oppa seperti bocah yang ketahuan oleh Ahjussi karena telah mencuri kolornya, hah?!”

 

“Mwo?! Ya, bicara apa kau, chagiya. Aku hanya terkejut. Itu saja,” elak Minho seraya memamerkan senyuman mautnya.

 

“Aisshh, Oppa ini aneh sekali,” ujar Min Gi, yeoja yang mencubit pinggang Minho.

 

“Wae?” tanya Minho. “Ah, aku rindu padamu. Ayo kita ke kantin, chagiya,” ajak Minho.

 

Ia menggamit lengan Min Gi dengan mesra. Yeoja yang digandengnya hanya tersenyum.

Minho memilih meja di pojok untuk mereka berdua, kemudian ia memesan dua gelas lemon tea untuk dirinya dan yeojachingunya.

 

Setelah lemon tea pesanannya dihidangkan di meja, Minho segera menyeruputnya sampai sisa setengah gelas.

 

“Aigo, Oppa seperti orang yang habis maraton saja,” ujar Min Gi sambll menggelengkan kepalanya.

 

Minho tersenyum. “Aku sangat haus, chagiya.”

 

“Oppa seperti anak kecil saja. Aku jadi gemas.” Min Gi mencubit kedua pipi Minho dengan gemas.

 

“Ya, appo!” rengek Minho manja.

 

“Mianhae, Oppa. Aku terlalu bersemangat,” ucap Min Gi cengengesan lalu segera mengelus kedua pipi Minho dengan sayang. “Sudah tidak apa-apa, kan?”

 

“Gwenchana,” ucap Minho sambil tersenyum.

 

“Ya, kenapa kemarin Oppa pergi begitu saja?” tanya Min Gi membahas kejadian kemarin.

 

“Apa Chi Hoon tidak mengatakan padamu?” Minho balik bertanya.

 

“Dia sudah mengatakannya. Tapi aku sangat kesal padamu karena Oppa tidak menjawab teleponku,” jawab Min Gi sambil mengerucutkan bibirnya.

 

“Mianhae. Aku tidak bermaksud untuk menghindar darimu, Min Gi-ya.”

 

“Ne gwenchana. Tapi Oppa harus mengobati rasa kesalku ini.”

 

“Tentu. Katakan apa yang kau inginkan Tuan Putri, aku pasti akan mengabulkannya.”

 

“Kita pergi ke Taman Hiburan saja. Sudah lama kita tidak pergi berdua, arra?” usul Min Gi.

 

“Kau mengajakku berkencan, eh?” goda Minho.

 

Pipi Min Gi langsung berubah warna menjadi seperti tomat matang yang terlalu matang sehingga menjadi busuk😄 begitu mendengar ucapan dari namjachingunya. Ia mencubit lengan Minho yang sedari tadi terlipat di atas meja.

 

Minho meringis ketika di cubit oleh Min Gi. Yeoja itu hanya menjulurkan lidahnya dan memasang ekspresi rasakan-itu-Choi-Minho.

 

 

*

 

 

(Minho POV)

 

Untunglah Min Gi tidak marah padaku. Padahal kemarin aku tidak membalas pesannya dan menjawab teleponnya. Sifatnya memang seperti anak kecil, mudah sekali marah dan juga mudah untuk melupakannya. Itulah yang aku suka darinya.

 

Sedangkan Yoora berbeda dengan Min Gi. Yang aku suka darinya ialah sifatnya yang lucu dan menggemaskan yang selalu membuatku tersenyum dan tertawa. Casingnya saja yang seperti yeoja feminim, sebenarnya ia sangat galak! Rambut panjang Yoora yang dulu sangat sering kumainkan kini tidak lagi kudapatkan karena Yoora memotong pendek rambutnya ala namja. Aku sampai tertawa geli mengetahui cerita di balik kenapa-Yoora-memotong-mahkota-panjangnya.

 

Aku benar-benar mencintai dua yeoja yang juga menjadi yeojachinguku itu. Entah kenapa aku tidak rela melepaskan salah satu diantara mereka.

 

Walaupun pertama kali yang merebut hatiku adalah Yoora, tapi semenjak bertemu dengan Min Gi, perasaan yang kurasakan pada Yoora juga aku rasakan pada Min Gi.

 

Dan besok aku akan berkencan dengan Min Gi di Taman Hiburan. Mumpung Yoora masih berada di Jepang menjenguk Halmoeninya yang sedang sakit. Tidak ada pengganggu. Dan ini adalah keberuntunganmu Choi Minho!

 

 

***

 

 

Sepasang sejoli itu tengah bersenang-senang di Taman Hiburan. Tawa dan canda selalu menghiasi keduanya. Sesekali mereka saling berlarian karena Minho menjahili Min Gi dengan badut Ahjussi. Min Gi memang takut badut. Hal itu tentu saja membuat Min Gi ketakutan dan kesal. Ia mengejar Minho hendak memberi pelajaran pada namjachingunya.

 

Acara kejar mengejar itu selesai dengan menyisakkan kelelahan pada diri mereka masing-masing. Min Gi masih saja cemberut dan Minho hanya tertawa melihat ekspresi Min Gi.

 

“Ya! Kenapa Oppa menertawakanku, huh?!” ucap Min Gi masih dengan wajah yang di tekuk.

 

“Omona, kau jelek kalau cemberut seperti itu,” goda Minho yang berhasil membuat Min Gi meradang.

 

“Ya, Minho Oppa!” seru Min Gi sambil memukul lengan Minho.

 

“Ya, appo! Hentikan,” ucap Minho berusaha melepaskan diri dari pukulan Min Gi. “Aiisshh, kau ini suka sekali memukulku.”

 

“Salahmu,” ucap Min Gi sambil mehrong.

 

“Apa kau senang, chagiya?” tanya Minho sambil menatap tepat ke manik matanya Min Gi.

 

Min Gi mengangguk semangat seperti anak kecil. “Tentu saja aku sangat senang. Hal seperti inilah yang selalu kuinginkan, Oppa.”

 

Minho tersenyum kemudian mengelus puncak kepala Min Gi dengan sayang. Min Gi menyenderkan kepalanya di bahu kekar Minho.

 

“Mian kalau aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu setiap hari, chagiya. Tapi aku sangat mencintaimu,” ucap Minho lirih.

 

“Aku mengerti. Kau tidak usah merasa bersalah seperti itu, Minho Oppa. Aku sudah sangat senang karena Oppa setia padaku.”

 

DEG!

 

Jantung Minho seperti tertindih batu besar begitu mendengar kalimat terakhir dari Min Gi. Ia menelan ludahnya.

 

“Mianhae, Shin Min Gi. Aku tidak seperti yang kau pikirkan,” batin Minho.

 

 

*

 

 

(Yoora POV)

 

Dengan malas, aku menyeret kakiku mengikuti tarikan dari Leo. Ia terus saja membawaku ke stand-stand yang menyediakan aneka permainan.

 

Sebenarnya aku sangat malas ke luar rumah, apalagi ke Taman Hiburan bersama keponakanku, Leo Lee. Seharusnya seharian ini aku ingin tidur sepuasnya. Aku sangat lelah karena tadi pagi aku baru saja tiba dari Jepang. Tapi setan kecil ini sungguh sangat menyebalkan. Ia merengek memintaku mengajaknya ke Taman Hiburan. Mau tak mau aku menuruti keinginan keponakanku satu-satunya karena dia mengancam akan mengganggu tidurku dengan menabuh kedua tutup panci ala marching band. Tentu saja aku memilih menuruti keinginannya ketimbang harus masuk rumah sakit gara-gara menderita tuli mendadak.

 

“Noona, lihat itu!” seru Leo sambil menunjuk Ahjussi penjual balon. “Aku ingin balon itu, Noona.”

 

“Ya sudah, kajja kita kesana,” ucapku menurutinya.

 

Kulihat Leo tersenyum senang. Aissh, anak ini ketika sedang tersenyum seperti itu sangat menggemaskan. Tanpa kusadari, aku pun tersenyum.

 

“Ahjussi, aku ingin balon warna biru itu,” ucap Leo dengan riang sewaktu kami sampai di tempat Ahjussi penjual balon berada.

 

“Ya, kenapa kau memilih warna biru? Bukankah kau lebih suka warna merah?” tanyaku heran.

 

“Minho Hyung selalu memberikanku balon berwarna biru kalau dia ke rumah, Noona.” Aku hanya manggut-manggut. Memang Minho oppa selalu membawa balon biru untuk Leo dan coklat batang untukku ketika dia berkunjung ke rumahku. “Ya, Noona! Lihat itu!”

 

“Memangnya ada apa?” tanyaku.

 

“Itu disana, ada Minho Hyung!”

 

MWO?!

 

“Ya, mana Minho Oppa?” Mataku mengikuti ke arah pohon besar yang Leo tunjuk, tapi aku sama sekali tidak melihat Minho Oppa disana. Apa mungkin Minho Oppa ada di atas pohon itu? Aku segera mendongak meneliti ranting-ranting pohon itu tapi tidak ada Minho Oppa yang bertengger disana.

 

“Noona, itu Minho Hyung!”

 

“Mana? Aku tak melihatnya.”

 

“Aisshh, Noona ini,” ucap Leo kesal. “Itu di bangku taman dekat pohon besar.”

 

Aku kembali melihat pohon besar itu. Rupanya disana memang ada bangku panjang yang di duduki oleh dua orang. Yeoja dan namja.

 

Kusipitkan mataku ke arah namja yang duduk di bangku itu. Namja itu sedang mengelus puncak kepala yeoja yang sedang bersender di bahunya. Kufokuskan lagi pandanganku ke wajah namja itu. Mataku terbelalak. Terkejut mendapati namja itu adalah namja yang kukenal yang tak lain ialah namjachinguku, Choi Minho.

 

“Leo-ya, ayo kita kesana!” ucapku sambil menarik tangan Leo setelah membayar balon pada Ahjussi penjual balon.

 

Emosiku kini sudah hampir naik ke ubun-ubun. Mataku sepertinya memerah seperti mata setan. Hatiku panas dan sakit. Bagaimana bisa namjachinguku sedang bermesraan dengan yeoja selain aku. Aku benar-benar tak habis pikir. Baru dua hari kutinggal ke Jepang, Minho sudah mulai berani bermain yeoja di belakangku.

 

Awas saja kau Choi Minho. Akan kupangkas habis rambut kebanggaanmu itu!

 

 

*

 

 

(Min Gi POV)

 

Hari ini aku sangat senang sekali. Berkencan dengan Minho Oppa adalah momen yang selalu kunantikan. Minho Oppa sangat romantis hari ini, meskipun aku sempat di buat kesal olehnya karena ia menjahiliku dengan badut Ahjussi. Sudah pasti Minho Oppa sengaja membuatku ketakutan karena dia tau bahwa aku paranoid terhadap makhluk bernama badut.

 

Bahunya yang kekar sangat nyaman untuk kusenderi. Tapi kenapa kepalaku terasa berat, ya? Seakan-akan ada benda yang menindih kepalaku.

 

Hah, pantas saja kepalaku berat, ternyata benda yang kumaksud tadi adalah kepala Minho Oppa! Rupanya ia tertidur sampai-sampai bersender pada kepalaku, tentu saja karena kepalaku bersender pada bahunya.

 

Bagaimana bisa dia tidur di tempat ramai seperti Taman Hiburan ini? Benar-benar kebo sejati. Tidak mengenal tempat dan waktu, dia dengan mudahnya tertidur. Bahkan ketika sedang berkencan seperti sekarang ini dia melupakan yeojachingunya dan lebih memilih untuk menjemput mimpinya. Unbelievibble!

 

“Minho Oppa, bangun!” Aku mencoba membangunkannya. Tapi dia sama sekali tidak bereaksi.

 

Kucoba menepuk pipinya, tapi Minho Oppa hanya menggumam.

 

“Yoora-ya, ampuni aku. Aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi. Tolong singkirkan pistol itu.”

 

Apa aku tidak salah dengar? Barusan Minho Oppa mengigau dan menyebut nama yeoja lain. Siapa sebenarnya yeoja bernama Yoora itu?

 

Aku bangkit dari dudukku dan alhasil Minho Oppa roboh dan kepalanya membentur dudukan bangku.

 

“YA, KEBO! Bangun kau!” seruku.

 

“CHOI MINHO! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN DISINI?!”

 

 

*

 

 

(Minho POV)

 

Kali ini aku ketahuan sedang berselingkuh dengan Min Gi dan Yoora melihat itu semua! Yoora sangat murka, dia memukulku dan Min Gi sampai babak belur. Min Gi sampai pingsan dibuatnya, sedangkan aku masih bisa bertahan.

 

“Yoora-ya, aku bisa menjelaskan ini semua.”

 

“Tidak perlu ada penjelasan. Ini semua lebih dari cukup untuk menjelaskan sikapmu yang berubah akhir-akhir ini.” Yoora mengeluarkan pistol dibalik hoodienya. “Pembohong sepantasnya di musnahkan.”

 

“Yoora-ya, ampuni aku. Aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi. Tolong singkirkan pistol itu,” ucapku memohon.

 

Tidak, aku tidak ingin hidupku berakhir untuk selamanya hanya karena ketahuan berselingkuh. Ini tidak lucu!

 

“Bersiap-siaplah kau, Choi Minho!” Yoora menarik pelatuk pistolnya. Tinggal satu langkah dia melepaskan pelatuknya, melayanglah nyawaku.

 

Aku segera berlari menghindari tembakan Yoora, tapi sial, kepalaku malah mencium tiang listrik.

 

“YA, KEBO! Bangun kau!”

 

“CHOI MINHO! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN DISINI?!”

 

Aku segera mengucek mataku. Dan betapa terkejutnya aku melihat Yoora sekarang berdiri di hadapanku dengan wajah setannya.

 

GLEK!

 

Ini tidak mungkin. Mimpi itu tidak akan mungkin menjadi kenyataan saat ini juga.

Yoora tidak memanggilku dengan sebutan Oppa, itu artinya dia sedang marah padaku. Apalagi jika dia menyebut namaku dengan lengkap di saat seperti sekarang, itu artinya Yoora sedang marah besar.

 

Tapi kenapa Yoora bisa berada disini? Bukankah dia masih berada di Jepang?

 

“Apa yang sedang kau lakukan disini bersama yeoja lain, hah?!” seru Yoora murka.

 

Aku harus menjawab apa?

 

“Aku bisa jelaskan ini semua,” ucapku.

 

“My sweety, Lee Yoora?”

 

“Shin Min Gi? Kau disini?”

 

 

*

 

 

(Author POV)

 

Dari kejauhan, terlihat dua namja yang terus menerus memandang Yoora, Min Gi, Minho, dan Leo.

 

“Hyung, sepertinya itu Yoora.”

 

“Yoora mantan pacarmu?”

 

“Iya.”

 

“Bukankah katamu dia berambut panjang? Kenapa rambutnya pendek seperti itu?”

 

“Entahlah. Mungkin dia memotong rambutnya. Tapi aku yakin itu My Sweety Lee Yoora.”

 

“Kau yakin?”

 

“Seratus persen yakin! Dan anak kecil itu adalah Leo, keponakan Yoora. Ya, tidak salah lagi, Hyung. Itu Lee Yoora dan Leo Lee.”

 

“Memang mirip seperti di foto yang kau tunjukkan, sih.”

 

“Issh, Hyung ini! Dia memang Lee Yoora, yeoja yang kucintai.”

 

“Itu sepertinya Min Gi.”

 

“Yeoja berambut ikal itu? Shin Min Gi pacar barumu, Hyung?”

 

“Iya. Dan namja itu siapa?”

 

“Entahlah, sepertinya aku pernah melihatnya.”

 

“Bagaimana kalau kita temui mereka?”

 

“Ide bagus, Hyung. Kajja!”

 

Dua namja itu akhirnya menghampiri dimana orang yang mereka maksud berada.

 

“My Sweety, Lee Yoora?”

 

“Shin Min Gi? Kau disini?”

 

Min Gi terlihat terkejut melihat namja yang memanggilnya. Ia tidak menjawab pertanyaan namja itu. Sedangkan Yoora hanya mendengus sebal pada namja yang memanggilnya.

 

“Sedang apa kau disini, huh?!” tanya Yoora pada namja yang memanggilnya.

 

“Tentu saja sedang jalan-jalan bersama Hyungku. Ini kan tempat umum, Sweety.”

 

“Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi, Ryeowook!” ucap Yoora tak suka.

 

Namja yang bernama Ryeowook pun tertawa. “Kau tidak berubah, My Sweety Lee Yoora.”

 

“Diamlah kau. Aku tidak ingin melihatmu saat ini,” ucap Yoora dengan sadisnya.

 

“Yoora-ya, taukah kau, aku ini sangat merindukanmu. Kenapa kau selalu menghindariku?”

 

“Jangan bahas itu sekarang.”

 

“Leo-ya, kau rindu pada puding coklat buatan Hyung, kan?” tanya Ryeowook pada Leo yang hanya diam menatap orang-orang yang entah sedang meributkan apa.

 

Leo mengangguk. “Kenapa Ryeong Hyung tidak pernah main ke rumah lagi?”

 

“Bertanyalah pada Noonamu itu.”

 

“Sudahlah, Ryeowook! Jangan meracuni pikiran Leo,” seru Yoora jengah.

 

“Aku tidak meracuninya. Aku hanya bertanya.”

 

“Yoora-ya, dia siapa?” tanya Minho yang sedari tadi hanya menyimak percakapan antara Yoora dan Ryeowook.

 

“Aku namjachingunya Yoora,” jawab Ryeowook dengan penuh percaya diri.

 

“Itu tidak benar,” sergah Yoora meyakinkan Minho. “Jangan sembarangan bicara kau, Kim Ryeowook!”

 

“Ryeowook memang namjachingunya Yoora,” ucap Yesung, kakak Ryeowook yang membuat semua orang disitu terkejut. “Mantan namjachingu maksudku.”

 

“Issshh, Hyung! Kau menyebalkan!” protes Ryeowook.

 

“Bukankah itu kenyataan, Ryeowook-ah?” tanya Yesung retoris.

 

Ryeowook hanya mendengus sebal pada hyungnya yang berbicara terang-terangan. Ryeowook pikir Yesung akan berpihak padanya.

 

“Kau mantan namjachingunya Yoora?” tanya Minho memastikan.

 

“Iya,” jawab Ryeowook dengan mantap. “Wae? Kau siapanya My Sweety Lee Yoora, hah?!”

 

“Aku namjachingunya.”

 

“MWO?!” seru Ryeowook dan Min Gi secara bersamaan.

 

Minho mengutuk dirinya sendiri karena berbicara ceroboh yang mengakibatkan terkuaknya kebohongan yang ia buat.

 

“Yeoja ini yeojachingumu, Minho Oppa?” tanya Mi Gi tak percaya.

 

“Dengarkan aku chagiya, aku bisa menjelaskannya,” ucap Minho berusaha membela diri.

 

“MWO?! CHAGIYA?!” Kini giliran Yoora dan Yesung yang berseru kompak.

 

“Rupanya dugaanku benar. Ternyata kau mempunyai yeojachingu lain selain aku,” ucap Yoora sinis.

 

“Min Gi-ya, kau berpacaran dengan namja itu?” tanya Yesung tak percaya. Ia menatap Min Gi dengan mata kucingnya yang tajam.

 

Min Gi menelan ludah. Habislah riwayatnya kali ini. Usut punya usut, Min Gi dan Yesung sudah berpacaran selama satu minggu.

 

“Kau namjachingunya Min Gi?” tanya Minho pada Yesung.

 

“Ne. Baru saja minggu lalu kami resmi berpacaran,” jawab Yesung.

 

Mata Minho membulat tidak percaya. Ini terlalu rumit baginya. Juga bagi semua orang yang mengetahuinya termasuk Ryeowook dan Leo yang dengan polosnya hanya melongo dan genggamannya tak lepas dari tangan kiri Yoora yang mungkin sebentar lagi akan meledak.

 

“Kau berselingkuh dengannya, Shin Min Gi?” Mata Minho memerah.

 

“Maafkan aku Minho Oppa. Aku terpaksa melakukan ini semua,” ucap Min Gi sambil berlinang air mata. “Aku berpacaran dengan Yesung Oppa karena ada sebabnya. Apa Oppa tak pernah merasakan rasanya kesepian? Akhir-akhir ini sikapmu padaku berubah, Minho Oppa. Dan semenjak aku bertemu dengan Yesung Oppa, aku tidak lagi merasa kesepian karena Yesung Oppa selalu perhatian padaku.

 

Apa Oppa akan marah padaku setelah mengetahui aku juga berpacaran dengan Yesung Oppa? Sebaiknya urungkan niatmu dan intropeksi diri. Ternyata kekhawatiran yang kurasakan selama ini menjadi kenyataan. Kau juga mempunyai yeojachingu lain, kan? Dan sekarang kita impas. Yesung Oppa, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mempermainkanmu.”

 

Setelah mencurahkan semua isi hatinya, Min Gi berlari meninggalkan orang-orang yang terdiam tak percaya dengan apa yang baru saja ia ucapkan.

 

Yesung syok. Ia tak menyangka jika Min Gi ternyata sudah mempunyai namjachingu yang juga menjadi namjachingu mantan yeojachingunya Ryeowook, dongsaengnya.

 

“Ayo kita pergi dari sini, Leo,” ucap Yoora acuh.

 

“Chagiya, aku bisa menjelaskannya,” ucap Minho.

 

“Berani-beraninya kau memanggil My Sweety Lee Yoora dengan sebutan chagiya setelah kau melakukan ini semua, hah?!” seru Ryeowook. Ia tak terima Yoora diperlakukan seperti itu oleh Minho.

 

“Diam kau!” seru Minho.

 

“Kau yang diam, Choi Minho!” bentak Yoora. “Benar apa kata yeojachingumu itu, lebih baik kau intropeksi diri.”

 

“Maafkan aku, Lee Yoora,” sesal Minho.

 

Yoora segera menarik lengan Leo dan mengajaknya pulang.

 

“Lebih baik kita pergi dari sini, Hyung,” ajak Ryeowook. “Biarkan dia merenungi kesalahannya sendiri.”

 

Setelah kepergian Ryeowook dan Yesung, Minho berteriak dan menendang kaki bangku.

 

 

***

 

 

(Author POV)

 

Tiga hari setelah kejadian itu, Yoora dan Min Gi sama sekali tidak pernah menghubungi Minho lagi. Dua yeoja itu sudah terlanjur kecewa pada Minho, terlebih Yoora yang merasa dirinya dipermainkan oleh Minho.

 

Sedangkan Minho bingung harus berbuat apa lagi. Ia galau. Ia menyesali apa yang telah ia lakukan pada dua yeoja yang dicintainya.

 

Sebenarnya Yoora dan Min Gi merindukan Minho, begitu juga sebaliknya. Entah kenapa Yoora tidak meledak ketika mengetahui dirinya dikhianati oleh Minho. Min Gi juga sangat menyesal karena menyakiti hati Yesung dengan menerima pernyataan cinta Yesung. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sama sekali tidak mencintai Yesung. Yesung hanya dijadikan pelariannya saja. Namja yang Min Gi cintai ialah Minho.

 

Minho belum memutuskan hubungannya dengan Yoora dan Min Gi. Ia malah merasa sangat kehilangan. Ia tidak tau harus memilih siapa, pasalnya Minho sangat mencintai kedua yeoja yang menjadi tambatan hatinya itu.

 

 

***

 

 

2 bulan kemudian.

 

“Aku tak habis pikir kenapa aku mau saja di madu denganmu,” cibir Yoora.

 

“Kau pikir aku juga mau di madu denganmu, Lee Yoora,” ucap Min Gi tak mau kalah.

 

“Panggil aku Eonnie! Kau ini tidak sopan sekali.”

 

“Hanya beda empat bulan.”

 

“Hanya katamu?”

 

“Memangnya kenapa? Masalah?”

 

“Whatever,” ucap Yoora akhirnya mengalah.

 

Yoora dan Min Gi akhirnya berbaikan dengan Minho. Yoora luluh hanya karena coklat! Dan Min Gi luluh hanya dengan tiga bait puisi!

 

Dan juga rupanya Yoora mengajukan satu syarat yaitu ia akan memaafkan Minho jika ia diperbolehkan untuk memanggil Minho tanpa embel-embel ‘Oppa’. Padahal Yoora lebih muda satu tahun dari Minho. Dan syarat itu disetujui oleh Minho. Minho berpikir, apalah arti sebuah panggilan, yang penting baginya ialah cinta dari Yoora.

 

“Eonnie, kau benar-benar mencintai Minho Oppa?” tanya Min Gi serius.

 

“Kau panggil aku apa tadi? Eonnie?”

 

“Tidak usah di bahas. Jawab saja pertanyaanku.”

 

“Kau ini gila? Tentu saja aku sangat mencintai Minho. Mana mungkin aku mau di madu denganmu jika alasannya bukan karena cinta,” jawab Yoora. “Apa kau tau? Ryeowook saja masih mengejar cintaku sampai saat ini. Ryeowook adalah namja yang baik, tapi aku tidak mencintainya lagi. Hanya Minho lah yang berhasil merebut hatiku.”

 

Min Gi menunduk. “Maafkan aku, Eonnie.”

 

Dahi Yoora mengernyit. “Untuk apa?”

 

“Karena aku lah kau jadi seperti ini. Dan karena aku juga cinta Minho Oppa terbagi. Aku sunguh minta maaf.”

 

Yoora tertegun mendengarnya. Ia mengelus bahu Min Gi dan tersenyum. “Sudahlah. Kau tidak perlu minta maaf. Kau tidak salah apa-apa. Kaum yeoja memang selalu di rendahkan. Minho saja yang tidak tau diri. Mencintai dua yeoja sekaligus dan ingin menikahinya juga. Benar-benar namja gila.”

 

Min Gi tertawa. “Eonnie benar, Minho Oppa memang sudah gila.”

 

Tok tok tok.

 

Terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang.

 

“Masuklah,” seru Yoora.

 

“Kalian sudah siap?” tanya Chi Hoon, namja yang mengetuk pintu tadi. Chi Hoon terlihat sangat tampan dengan jas safarinya.

 

Yoora dan Min Gi mengangguk. Mereka kemudian bangkit dari duduknya. Dua penata rias dengan sigap merapihkan gaun mereka.

 

Chi Hoon tampak terpesona melihat dua makhluk Tuhan yang sangat memukau di hadapannya ini.

 

“Kalian cantik sekali,” puji Chi Hoon yang hanya disambut oleh senyuman Yoora dan Min Gi. “Beruntung sekali Minho mempunyai dua bidadari secantik kalian.”

 

Yoora tertawa. “Segeralah menyusul, Hoonie,” goda Yoora yang memang dari dulu sudah akrab dengan sahabat Minho satu ini.

 

“Belum ada calon,” jawab Chi Hoon sambil tersenyum. “Ayo kita keluar. Minho sudah menunggu kalian.”

 

Yoora dan Min Gi keluar dari ruang rias dengan di gandeng oleh Chi Hoon. Ternyata di luar ruang rias, dua namja kakak beradik telah menunggu mereka.

 

“Jangan sentuh My Sweety Lee Yoora!” seru Ryeowook. Ia mencoba melepaskan genggaman tangan Yoora pada Chi Hoon.

 

Chi Hoon terkejut. Yesung dan Min Gi hanya menggelengkan kepala mereka. Sedangkan Yoora tampak kesal.

 

“Jangan berlebihan, Kim Ryeowook,” ucap Yoora.

 

“Yoora-ya, kau ini tega sekali padaku!” seru Ryeowook dengan wajah melasnya. “Kenapa kau lebih memilih untuk menikah dengan namja playboy itu? Kau ini akan di madu olehnya, Yoora! Apa kau tidak memikirkan resikonya nanti? Kau ini masih muda, hidupmu masih panjang. Tolong jangan hancurkan masa depanmu hanya karena menikah dengan namja itu.”

 

Yoora hanya memutar bola matanya mendengar ocehan Ryeowook. “Sudah?”

 

“Yoora, aku serius!”

 

Yoora menggenggam kedua tangan Ryeowook. “Dengarkan aku, ini sudah menjadi keputusanku. Aku akan baik-baik saja dan hidupku tidak akan berakhir sampai disini. Kau tidak perlu cemas.”

 

“Tapi aku mencintaimu, Lee Yoora. Sampai kapan pun aku tak rela jika kau menjadi istri Minho.”

 

“Jangan kekanakan seperti itu. Sudah untung kau kuberi undangan pernikahanku.”

 

“Ryeowook-ah, jangan seperti itu. Kau sama saja menyiksa Yoora,” ucap Yesung menasehati dongsaengnya.

 

“Kau tidak tau perasaanku, Hyung!”

 

“Aku tau. Aku juga merasakan apa yang kau rasakan,” ucap Yesung. “Lebih baik kita memberi selamat pada Yoora dan Min Gi.”

 

“Yesung Oppa, maafkan aku,” sesal Min Gi.

 

“Aku sudah memaafkanmu karena aku tau posisimu saat itu,” ucap Yesung bijak. “Chukkae, kau sebentar lagi akan resmi menjadi seorang istri.”

 

Min Gi tersenyum. Ia memeluk Yesung. “Gomawo, Oppa.”

 

“Selamat juga untukmu, Lee Yoora,” ucap Yesung pada Yoora.

 

“Terima kasih,” jawab Yoora sambil tersenyum. “Kau tidak memberikan ucapan selamat padaku, Ryeowook Oppa?”

 

Ryeowook memeluk Yoora. “Selamat ya, My Sweety Lee Yoora. Semoga kau tidak berbahagia dengan Minho.”

 

Yoora memukul lengan Ryeowook. “Tidak usah memberiku selamat jika kau masih kesal.”

 

“Baiklah, maafkan aku.”

 

“Yoora-ya, Min Gi-ya, ayo cepat kita turun. Minho pasti sudah lumutan menunggu kalian,” ucap Chi Hoon mengingatkan.

 

 

 

– the end –

 

 

 

4 thoughts on “Two Wives

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s