I Have To Go

 

 

Author: VipeR Яed

Title: I Have To Go

Cast:

  • Kim Hyun Ri
  • Kim Ryeowook (Super Junior)
  • Lee Yoora

Genre: Angst

Length: Oneshot

Rating: PG-13

 

 

 

 

 

(HyunRi POV)

 

“Aku tidak sudi mengurusimu lagi!”

 

Tanpa kusuruh, air mata ini sukses jatuh dari kelopak mata pandaku mendengar ucapannya. Sebisa mungkin aku tak ingin terisak disini, di depan orang-orang yang menyakiti hatiku. Beruntung posisiku yang memunggungi mereka membuat mereka tidak mungkin melihat air mataku ini.

 

Aku hanya terdiam. Tak sanggup melontarkan ucapan. Aku terlalu lemah dalam hal iba. Aku sendiri juga bingung. Seharusnya aku lah yang patut dikasihani saat ini, tapi mengapa aku yang kasihan pada mereka? Hah, aku ini memang yeoja aneh!

 

Membosankan sekali mendengar ucapan itu. Sepertinya aku sudah mendengarnya ratusan kali dan tak bosan-bosannya air mata ini membanjiri pipi chubby-ku. Aku harus segera pergi dari sini sebelum mereka menyadari aku menangisi ucapan itu.

 

 

***

 

 

“Kau terlihat buruk sekali, HyunRi-ya,” ucap Yoora. Matanya menelusuri setiap inci wajahku.

 

Aku merasa risih diperhatikan seperti itu. “Anniyo, Yoora. Gwenchana.”

 

“Gwenchana?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk. “Ya sudah. Aku mau ke kantin dulu. Kau mau ikut?”

 

Aku menggeleng untuk kedua kalinya. “Aku sedang malas makan.”

 

“Baiklah, aku tinggal dulu. Baik-baik disini.” Yoora menepuk-nepuk bahuku dan segera pergi meninggalkanku.

 

Kuhembuskan nafasku. Beruntung sekali aku mempunyai sahabat sebaik Lee Yoora. Ia selalu ada disaat aku membutuhkannya. Tapi entah kenapa setelah kejadian dua tahun yang lalu, aku tidak pernah menceritakan masalah pribadiku lagi padanya. Bukan, bukan karena aku tidak mempercayainya. Hanya saja aku lebih nyaman memendam masalahku sendirian tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya termasuk sahabatku yang sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Yoora memakluminya. Ia memang yeoja yang penuh pengertian, tidak seperti kedua orangtuaku.

 

“YA! KIM HYUN RI!”

 

Aku tersentak mendengar teriakan seorang namja yang kini tepat berada di depanku sambil berkacak pinggang.

 

“Kenapa kau berteriak di depanku, Oppa? Aku ini tidak tuli!” Aku mengerucutkan bibirku tanda kesal kepada namja yang tiba-tiba muncul di hadapanku ini.

 

“Kalau kau tak tuli, mengapa sedari tadi aku memanggil namamu kau hanya diam saja. Kau melamun, eh?”

 

“Anniyo,” jawabku salah tingkah.

 

“Kau gugup. Berarti tadi kau memang sedang melamun,” namja itu menyimpulkan ucapanku. “Melamunkanku, eh?”

 

Pletak!

 

Segera kujitak kepala namja imut ini. Ia hanya meringis menahan sakit.

 

“Percaya diri sekali kau, Oppa.”

 

Namja itu tertawa. Ia kelihatan lucu sekali. Mata sipitnya tampak seperti bulan sabit ketika sedang tertawa. Ingin sekali aku pergi meninggalkannya saat ini juga. Kupastikan ia tak menyadari kepergianku sampai ia berhenti tertawa.

 

“Chagiya, apa kau sedang dalam masalah?” ia bertanya. Mimik wajahnya terlihat begitu serius.

 

Aku tersenyum tipis. “Kenapa kau bertanya seperti itu, Ryeo Oppa?”

 

“Ya, memang salah kalau aku bertanya seperti itu padamu?” ia terlihat kesal. “Kau ini yeojachinguku, HyunRi.”

 

Lagi-lagi aku tersenyum tipis. Yah, namja imut dengan mata sipit itu memang namjachinguku. Ryeowook Oppa. Dia seumuran denganku. Kami sama-sama berumur 18 tahun dan duduk di bangku kelas 3 SHS. Sebenarnya Ryeowook Oppa 5 bulan lebih tua dariku, makanya kupanggil dia dengan sebutan Oppa.

 

Aku sangat mencintainya. Ryeowook Oppa adalah sosok namja yang aku idam-idamkan dari dulu. Aku sangat bahagia bisa memilikinya. Kami sudah menjalin hubungan selama 2 tahun lebih. Dan ia selalu ada disaat aku membutuhkannya.

 

“Kau masih tak mau bercerita kepadaku, chagi?” tanyanya dengan wajah sendu.

 

Ahh, aku tak tega melihat wajahnya berubah menjadi mendung. “Oppa, kau tak usah menghawatirkanku. Aku baik-baik saja.”

 

“Tapi kau tak terlihat sedang baik-baik saja.” Jemarinya mengusap lembut mata pandaku. “Lihatlah matamu, semakin hari matamu semakin kacau saja. Kantung matamu itu, ahhh seperti ada penghuninya saja.”

 

Aku terkekeh mendengar kalimat terakhirnya. Aku tau Ryeowook Oppa pasti menghawatirkan keadaanku. Memang akhir-akhir ini aku sering menangis, membuat mataku yang dahulu indah kini sudah dinistakan oleh kesedihan yang menyelimuti batinku. Kantung mataku ini, seperti mata panda. Memang benar apa yang Ryeowook Oppa ucapkan, kantung mataku memang seperti ada penghuninya saja.

 

 

***

 

 

(Author POV)

 

Rumah sederhana itu terlihat sepi kalau dilihat dari luar. Tetapi siapa yang menyangka kalau di dalam rumah itu sedang terjadi pertengkaran sengit.

 

HyunRi hanya diam ketika mendengar kedua orangtuanya terus menerus mengomel. Dalam hati yeoja itu berkata, “Mengapa mereka gemar sekali marah-marah? Pantas saja mereka terlihat sangat tua”.

 

“Ya, Kim Hyun Ri! Apa kau mendengar ucapanku? Mengapa sedari tadi kau diam saja!” omel Eomma Hyun Ri.

 

HyunRi menghela nafas, kemudian yeoja itu kembali terdiam.

 

“Kurang ajar sekali anak ini. Ditanya malah diam saja!” Eomma HyunRi terlihat begitu geram. “Kau mendadak bisu, ya?!”

 

Sekarang kesabaran HyunRi sudah habis ketika mendengar Eomma kandungnya sendiri mengatainya bisu.

 

“Memangnya aku harus bagaimana? Tadi ketika aku berbicara kalian menyuruhku diam. Sekarang setelah aku menuruti kemauan kalian untuk diam kalian malah menyuruhku untuk berbicara. Sebenarnya mana yang harus aku lakukan?”

 

“Bisakah kau berbicara sopan kepada kedua orangtuamu, KIM HYUN RI?!”

 

“Aku akan berbicara sopan terhadap orang yang berbicara sopan padaku!”

 

Kemudian HyunRi berlalu meninggalkan kedua orangtuanya yang sibuk memijit pelipis mereka masing-masing.

 

 

*

 

 

(HyunRi POV)

 

Maafkan aku Eomma. Maafkan aku Appa. Aku tidak bermaksud untuk membentak kalian. Aku tidak ingin durhaka pada orangtua yang sudah membesarkanku walaupun kalian sering menyakiti hatiku.

 

Selama ini aku sudah cukup bersabar menghadapi tingkah kalian yang sepertinya sangat membenciku. Apa yang harus aku lakukan? Selama ini aku selalu patuh, tapi kenapa kalian tidak bisa mengerti keadaanku?

 

Kalian mungkin tidak akan melupakan kejadian dua tahun yang lalu. Dimana anak namja kalian, Kim Hyun Soo, yang juga adalah adikku satu-satunya meninggal karena tertabrak mobil dan kalian menganggap bahwa aku adalah pembunuh Hyun Soo.

 

Bagaimana mungkin aku melakukan perbuatan keji seperti itu? Aku sangat menyayangi Hyun Soo. Aku akan selalu berusaha menjadi Nuna yang baik baginya. Aku selalu ingin melindunginya. Dan kejadian dua tahun lalu adalah murni kecelakaan. Apa kalian pikir aku tidak sedih mendapati Hyun Soo meninggal di dalam pelukanku?

 

Aku tau kalian ingin melihat Hyun Soo tumbuh menjadi namja tampan dan berwawasan agar kelak ia bisa menjadi penerus perusahaan Appa. Tapi apakah kalian pikir aku ingin menguasai harta kalian itu? Tidak sama sekali. Aku tidak tertarik untuk menggeser kedudukan mendiang Hyun Soo yang sudah tercatat menjadi pewaris perusahaan Appa.

 

Akan aku buktikan bahwa aku bisa menjadi orang hebat tanpa kasih sayang dan bantuan kalian, orangtua kandungku.

 

 

***

 

 

“Chagi, apa kau yakin?” tanya Ryeowook Oppa untuk yang kesekian kalinya.

 

“Aku sudah yakin seratus persen, Oppa. Lagi pula ini adalah kesempatan emasku untuk mewujudkan cita-citaku selama ini,” jawabku.

 

“Kau tega meninggalkanku disini?” Ryeowook Oppa tampak sedih.

 

“Demi Tuhan, aku juga tidak tega meninggalkanmu. Tapi aku juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Oppa. Aku sudah berusaha dengan keras untuk mendapatkan ini semua.”

 

“Iya, aku mengerti,” ucapnya lesu.

 

“Ayolah, Oppa. Jangan lesu seperti itu. Aku tidak akan meninggalkanmu selama-lamanya.”

 

“Aku sangat mencintaimu, Hyun Ri. Aku tidak tau akan seperti apa jadinya jika jauh darimu.”

 

“Aku juga sangat mencintaimu, Oppa.”

 

“Amerika itu sangat jauh. Aku pasti akan sangat merindukanmu.”

 

“Tenang saja. Aku berjanji akan selalu menghubungimu setiap hari. Kita akan terus berkomunikasi,” janjiku.

 

“Ingat, kau tidak boleh mencari namjachingu baru disana. Kudengar anak-anak Harvard tampan-tampan.”

 

Aku tertawa. “Aku tidak tertarik dengan mereka. Hanya kau lah satu-satunya namja yang paling tampan di dunia ini.”

 

Wajah Ryeowook Oppa bersemu merah. Dia menarikku ke dalam pelukannya.

 

 

*

 

 

(Author POV)

 

Eomma, Appa. Aku telah pergi untuk waktu yang lama, ke tempat yang jauh pula. Kalian tak perlu lagi melihat ‘pembunuh’ berada di rumah kalian. Pasti kalian merasa senang bukan?

 

Aku akan bisa sukses tanpa kalian. Tanpa uang kalian. Tanpa dukungan kalian. Tanpa kasih sayang kalian. Aku yakin itu.

 

Aku berjanji akan kembali pulang ke rumah jika nantinya aku sudah menjadi orang sukses dan membuat kalian bangga padaku. Tentunya, jika kalian sudah benar-benar memaafkanku.

 

Aku menyayangi kalian,

Kim Hyun Ri.

 

 

Air mata Eomma HyunRi tak bisa dibendung lagi. Eomma HyunRi terisak. Tidak, ia menangis meraung-raung setelah membaca surat dari putrinya. Appa Hyun Ri pun tak kuasa untuk menahan tangis.

 

“Maafkan Eomma, HyunRi. Kami menyesal. Sesungguhnya kami tidak benar-benar membencimu.”

 

 

 

– the end –

 

 

 

2 thoughts on “I Have To Go

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s