White Roses

 

Author: VipeR Яed

Title: White Roses

Cast:

  •  Lee Yoora
  •  Kim Joon Myeon aka Suho (EXO-K)

Genre: Mystery

Length: Oneshot

Rating: PG-13

 

 

 

 

 

 

Baru saja Yoora sampai di beranda rumahnya, setangkai bunga mawar putih yang berada di depan pintu menghalangi langkahnya. Yoora menghela nafasnya. Diambilnya bunga mawar putih itu kemudian ia masuk ke dalam rumahnya.

 

Di dalam kamar, Yoora memperhatikan bunga-bunga yang berada di atas meja belajarnya. Puluhan tangkai bunga mawar putih itu memenuhi meja belajarnya yang kini telah dialih fungsikan sebagai tempat menyimpan bunga-bunga mawar putih misterius itu.

 

Yoora bertanya di dalam hati, siapa gerangan yang mengirimkan bunga-bunga itu untuknya? Terlalu sulit bila ditebak. Karena si pengirim tidak pernah mencantumkan kartu pada bunganya. Setiap kali pulang bekerja, Yoora selalu mendapati di depan pintu rumahnya sudah terdapat setangkai bunga mawar putih.

 

Seringkali ia bertanya pada tetangganya, siapa tahu mereka mengetahui atau pernah melihat seseorang menaruh bunga mawar putih itu di depan pintu rumahnya. Tapi jawaban mereka semua sama, yaitu tidak tahu. Yoora hanya seorang diri di rumah ini. Appa dan Eommanya berada di luar negeri untuk urusan bisnis. Jadi selama ia bekerja, rumahnya dalam keadaan tak berpenghuni. Bahkan Yoora pernah bertanya pada penjual bunga yang tidak jauh dari rumahnya, siapa tahu orang misterius itu membeli bunga disana. Tapi hasilnya nihil.

 

Pusing memikirkan siapa sebenarnya dalang dibalik itu semua, Yoora memilih bercerita pada Kim Hyun Ri, sahabatnya.

 

“Aku benar-benar pusing memikirkan hal ini,” keluh Yoora. “Tidak mungkin yang melakukan itu adalah Sehun.”

 

Hyun Ri mengangguk paham. “Dari semua yang kau ceritakan, menurutku ada yang janggal.”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Pertama, disetiap bunga yang dia kirimkan tidak ada kartu atau apapun itu. Kedua, dia selalu meletakkan bunga di depan pintu rumahmu. Ketiga, anehnya dia selalu mengirimimu bunga mawar putih! Apa lagi kalau namanya tidak janggal?”

 

Yoora terperanjat. “Kau benar juga, Hyun Ri-ya!”

 

“Nah!” seru Hyun Ri sambil menjentikkan jarinya. “Pasti orang itu adalah orang yang pernah dekat denganmu. Buktinya dia tahu kalau bunga mawar putih adalah bunga kesukaanmu.”

 

“Jadi maksudmu, aku kenal dengan orang itu?”

 

Hyun Ri hanya mengangguk.

 

 

***

 

 

Hari ini Yoora tidak pergi ke kantor. Ia sengaja minta izin untuk absen satu hari karena ia ingin menyelidiki kasus yang telah membuatnya penasaran setangah mati, apalagi kalau bukan masalah orang misterius pengirim bunga mawar putih. Yoora bersembunyi di balik semak-semak untuk mengintai.

 

Yoora terus menunggu. Satu jam, dua jam, tiga jam, bahkan sampai jam lima sore pun orang itu belum muncul juga. Padahal Yoora sudah bersembunyi selama delapan jam terhitung dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore saat ini.

 

Tidak ada bunga mawar putih di depan pintu rumahnya. Dengan lemas, Yoora masuk ke dalam rumahnya.

 

Berharap bunga kesukaannya itu ada di depan pintu rumanya, Yoora kemudian keluar untuk meneliti siapa tahu setangkai bunga mawar putih tergeletak di depan pintu rumahnya. Sesampainya, Yoora tidak menemukan bunga mawar putih itu di depan pintu rumahnya seperti hari-hari sebelumnya. Dalam hati Yoora merasa kecewa.

 

Lagi-lagi hanya Hyun Ri lah orang yang tepat untuk mencurahkan segala isi hatinya. Karena sebenarnya Hyun Ri adalah sahabatnya yang pandai mencari solusi di setiap masalah.

 

“Menurutmu, apa dia tahu kalau tadi aku bersembunyi tidak jauh dari beranda rumah?” Yoora bertanya pada Hyun Ri.

 

“Hmmm…” Hyun Ri tampak berpikir keras. “Sepertinya tidak.”

 

Yoora mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu, Kim Hyun Ri? Aku benar-benar tidak mengerti.”

 

“Bagaimana kalau kita tunggu sampai besok. Kalau besok dia tidak mengirimimu bunga lagi…” Ucapan Hyun Ri menggantung begitu saja.

 

“Mwoya?”

 

“Itulah jawabannya.”

 

 

***

 

 

Satu minggu berlalu, tidak ada lagi bunga mawar putih di depan pintu rumah Yoora. Malam ini Yoora sedang duduk santai di beranda rumah. Yeoja itu mencoba mengingat sesuatu. Sesuatu yang berhubungan dengan mawar putih. Tiba-tiba Yoora teringat pada seseorang.

 

Suho.

 

Ya, Suho!

 

Omo~ Yoora menepuk keningnya sendiri. Kini ia sudah mengerti. Ia sudah menemukan kunci dari teka-teki selama ini.

 

Semilir angin malam yang sepoi-sepoi tiba-tiba berubah menjadi sangat kencang. Yoora terkejut setengah mati ketika melihat sosok namja yang kini berada di depan pintu rumahnya. Namja itu adalah yang baru saja ia pikirkan.

 

“Su… Ho?” ujar Yoora terbata-bata. Ia bangkit dari duduknya kemudian menghampiri sosok itu hati-hati.

 

Sosok namja itu tersenyum. “Ini aku, Suho.”

 

“Kau?!” Yoora tidak mempercayai apa yang dilihatnya saat ini. Ia segera mengucek kedua matanya, berharap ini semua hanyalah mimpi. Tapi ia salah!

 

“Ini aku, Yoora. Suho.”

 

“Kenapa kau bisa ada disini? Kau…”

 

“Tenang, Yoora-ya. Jangan takut padaku,” ujar Suho berusaha meyakinkan Yoora.

 

“Kau…” Yoora menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat. “Aku tidak percaya ini!”

 

“Aku hanya ingin bertemu dengan orang yang kucintai.”

 

“Orang yang kau cintai?”

 

“Selama ini, dulu sampai sekarang, aku masih mencintaimu.”

 

“Kau… Mencintaiku?” tanya Yoora tidak percaya.

 

Suho tersenyum. “Dulu, aku ingin sekali mengutarakan perasaanku padamu. Tapi ketika aku akan melakukan itu, rupanya kau baru saja memiliki namjachingu.”

 

“Maksudmu Sehun?”

 

“Benar. Oh Sehun, beruntung sekali namja itu.” Suho menerawang. “Hatiku sakit saat mengetahui kau berpacaran dengan Sehun. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena kulihat kau sangat bahagia bersama Sehun.”

 

Mata Yoora berkaca-kaca. “Suho-ya…”

 

“Kau ingat? Dulu kita sering mengobrol disini, di bangku itu dan juga di depan pintu ini.” Suho menunjuk bangku yang tadi Yoora tempati dan menunjuk dimana dirinya kini berada.

 

“Jadi?” Air mata Yoora tak kuasa bersembunyi di balik kelopak matanya. “Apakah kau orang itu? Orang yang mengirimiku bunga mawar putih itu?”

 

“Kau benar. Orang itu adalah aku,” jawab Suho. “Ketika mengetahui kau berpisah dengan Sehun, aku mulai mengirimkan bunga-bunga itu untukmu supaya kau tidak berlarut-larut bersedih.”

 

“Tapi kenapa kau berhenti mengiriminya?” tuntut Yoora.

 

“Sebenarnya aku tidak ingin berhenti mengirimimu mawar putih,” ujar Suho sedih. “Kau ingat terakhir aku mengirimimu mawar putih? Itu adalah hari dimana genap seratus hari kepergianku dari dunia ini.”

 

Air mata Yoora kembali turun dengan bebasnya. Ia merasa sangat bersalah pada Suho, sahabatnya. Refleks Yoora memeluk tubuh Suho.

 

“Mianhae,” ujar Yoora dengan suara parau. “Aku tidak tahu kau menderita karenaku.”

 

Suho lagi-lagi tersenyum. Diusapnya punggung Yoora dengan lembut dan penuh kasih sayang. Pelukan mereka semakin erat. “Ini bukan salahmu. Ini memang sudah menjadi takdirku.”

 

Angin malam yang sepoi-sepoi itu menyatukan kerinduan yang teramat luar biasa.

 

 

***

 

 

Yoora menaruh sebuket mawar putih diatas kuburan Suho. Sembari menaburkan kepingan-kepingan bunga, Yoora menangis.

 

“Maafkan aku, Suho-ya. Seharusnya aku sadar bahwa kau mencintaiku,” ujar Yoora sambil terisak.

 

Yeoja itu membayangkan masa lalunya. Masa-masa indah bersama Suho. Penuh ceria dan canda tawa. Yoora menyesal mengapa dirinya tidak mengetahui hal itu. Ya, cinta itu.

 

“Terima kasih karena kau sudah menjadi sahabat yang baik untukku selama ini. Terima kasih untuk seratus mawar putih yang kau berikan padaku. Terima kasih kau telah mencintaiku. Dan terima kasih untuk malam itu,” lanjut Yoora sambil mengusap air matanya.

 

Setelah selesai berdo’a, Yoora melangkah menjauh dari peristirahatan terakhir Suho.

 

 

*

 

 

Dalam keadaan tenang, dipandanginya bunga-bunga mawar putih pemberian Suho. Seratus bunga mawar putih itu tersusun rapi di dalam vas berukuran besar yang baru dibelinya tadi sewaktu perjalanan pulang dari pemakaman. Menjadikan objek yang sangat indah dipandang mata.

 

Bunga-bunga itu masih segar. Tidak ada yang layu satu pun. Mungkin karena cinta yang Suho miliki tak pernah layu untuk Yoora. Cinta Suho akan selalu bermekaran. Tidak ada musim gugur bagi cinta Suho pada Yoora.

 

Yoora mengambil setangkai mawar putih itu dari vasnya. Dihirupnya bunga kesukaannya itu. Wangi. Wangi yang sangat menentramkan hati. Entah kenapa Yoora merasa sangat nyaman dan merasa sangat dekat dengan Suho bila mencium wangi bunga mawar putih itu.

 

“Sampai kapan pun, kau akan selalu ada di hatiku.”

 

 

 

– the end –

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s