Liontin Bintang

 
 
 
 

Author: VipeR Яed

Title: Liontin Bintang

 
 
 
 

Dengan langkah pelan, Hefri membuka pintu kamar adiknya. Pintu kamar itu seperti biasanya, tak terkunci. Di atas ranjang, seorang gadis tengah tertidur pulas. Rambutnya yang hitam panjang menutupi sebagian wajahnya yang cantik. Tubuh mungilnya tertutup rapat dengan balutan selimut tebal.

 

Diam-diam Hefri membuka pintu lemari pakaian. Hefri sibuk mencari sesuatu dalam setumpukkan pakaian adiknya. Matanya tertuju pada rok merah selutut motif kotak-kotak. Hefri segera mengambil rok tersebut. Kemudian ia menutup kembali pintu lemari pakaian, lalu memandang adiknya sebentar. Sebuah senyum tipis tersungging dari bibirnya. Buru-buru ia pergi meninggalkan kamar adiknya.

 

 

***

 

 

“Lho, rok gue kok nggak ada?” Sandra kembali mencari rok merahnya. Hampir setengah jam ia mencari roknya, tapi belum ditemukannya juga. “Ngilang kemana, ya? Perasaan kemarin gue simpen di lemari.”

 

Sandra mendesah. Ia kemudian duduk di pinggir ranjangnya. Lima belas menit lagi Sandra harus sampai di tempat les Bahasa Inggrisnya. Padahal Sandra ingin sekali datang ke tempat les dengan mengenakan rok barunya itu. Tapi apa boleh buat, rok merah selutut motif kotak-kotak yang baru dibelinya kemarin menghilang entah kemana.

 

Seminggu yang lalu Sandra juga kehilangan slayer hitam favoritnya. Sandra juga pernah kehilangan kaos kaki belang hitam putihnya. Entah siapa yang mencuri, tapi Sandra yakin kalau pencuri rok merah kotak-kotaknya adalah orang yang sama seperti pencuri slayer dan kaos kaki belangnya.

 

Dengan perasaan kecewa, Sandra memutuskan untuk pergi dengan celana jeans tiga perempatnya.

 

 

*

 

 

“Buseeet! Keren amat rok elu, bro!” puji Guntur ketika Hefri muncul di ambang pintu markas mereka. Yang lain pun ikut memandangi rok Hefri.

 

“Itu pasti punya Sandra,” tebak Eko. “Iya, kan?”

 

“Seratus buat Eko!” jawab Hefri lalu ia tepuk tangan sendirian.

 

“Apa adik lu nggak ngerasa kehilangan? Apalagi itu rok masih ada bandrolnya. Pasti adik lu baru beli, deh. Kasian kan belum dipake sama dia, malah dipake duluan sama abangnya,” komentar Cupik sambil geleng-geleng kepala. Heran sekaligus aneh mengetahui tingkah sohibnya itu.

 

“Lagian lu maksa banget, Hef!” Desta pun geleng-geleng kepala. “Bayangin aja, body-nya Sandra kan mungil, so pasti pinggangnya kecil. Tapi yang gue heran, kok bisa gitu muat sama elu. Pinggang lu kan melar!” komentar Desta yang mengundang tawa anak-anak minus Hefri.

 

“Itulah ajaibnya gue,” ujar Hefry bangga. “Udahlah, kalian tenang aja. Gue tuh mau beliin benda impiannya.”

 

“Emangnya Sandra pengin apaan?” tanya Eko penasaran.

 

“Kepo lu!”

 

Eko langsung memasang mimik annoying saat Hefri mengatakan kalimat tersebut.

 

“Woy, jadi berangkat nggak?” tanya Guntur sekaligus mengingatkan.

 

“Jadi, lah,” jawab Cupik.

 

“Perlengkapannya udah beres?” tanya Guntur lagi.

 

“Udah, Bos!” jawab Desta.

 

“Kalo gitu kita langsung cabut!” seru Guntur mengomandani.

 

“Berangkaaaaaaaaaaaaattt!”

 

 

*

 

 

“Abang dari mana aja jam segini baru pulang?” seru Sandra mengagetkan Hefri yang baru pulang dengan menenteng sepatu boots hitamnya dan menggendong ransel yang kelihatannya penuh dengan barang-barang.

 

“Kayak lu nggak tahu aja kalo gue biasa pulang jam segini,” ujar Hefri lalu membanting tubuhnya ke sofa, tepat di samping Sandra.

 

“Abang kemana aja, sih? Terus tas itu isinya apaan? Sepatu juga pake dilepas segala, biasanya juga nyelonong.”

 

“Gue tadi abis ada kerjaan sama temen-temen.”

 

“Temen-temen band?” tanya Sandra menyelidik.

 

“Iya, Koplo Gank. Lu tahu kan kalo gue punya band punk?” Hefri balik bertanya.

 

“Ya tahu, lah. Dari dulu juga udah tahu kali!” jawab Sandra sedikit sewot. “Ngomong-ngomong, fans Koplo Gank semakin banyak ya, Bang?”

 

“Ya gitu, deh,” jawab Hefry santai. “Elu kok belom tidur, San?”

 

“Sandra nungguin Abang pulang,” jawab Sandra tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi yang sedang menayangkan acara sinetron.

 

“Nungguin gue? Maksud lu?” Hefri curiga, jangan-jangan adiknya itu sudah tahu apa yang selama ini ia lakukan.

 

“Abang lupa, ya? Ayah kan lagi lembur. Abang kan biasa pulang sore kalo hari Sabtu.”

 

“Oh…” ujar Hefri pelan. Sejurus kemudian Hefri menyesali dirinya sendiri. Kenapa juga ia bisa lupa kalau setiap malam Minggu ia harus ada di rumah, menjaga adik sematawayangnya.

 

Sandra mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan wajah Hefri yang rupanya sedang melamun. Hefri tergagap. Sandra hanya bisa terkekeh melihatnya. “Kenapa, Bang? Kok bengong?”

 

“Nggak.”

 

“Oh, iya.” Sandra teringat sesuatu. “Tadi Kak Adita datang kesini, dia nyariin Abang. Terus tadi di tempat les, Kak Erly titip salam. Abang tahu Kak Erly, kan?”

 

“Iya, tahu. Elu nggak usah ngeladenin dia, apalagi si Adita itu. Males gue,” ujar Hefri tak suka.

 

Memang, Hefri yang berpostur tinggi tegap dan berwajah tampan itu selalu menjadi incaran para cewek. Termasuk tetangga sebelah mereka, Adita, dan guru les Bahasa Inggrisnya Sandra, Erly namanya.
Kadang Sandra heran dan tidak habis pikir, kenapa kakaknya itu selalu saja cuek bila disinggung masalah cewek, apalagi cewek yang Sandra sebut itu Adita dan Erly. Pasti Hefri langsung jengah, bahkan ia pernah memarahi Sandra entah apa sebabnya. Dan itu membuat Sandra kesal setengah mati.

 

“Terserah Abang, deh. Sandra kan cuma nyampein pesen.” Sandra memencet tombol merah pada remote televisi kemudian pergi meninggalkan kakaknya yang sepertinya sangat kelelahan.

 

“Mau kemana lu?”

 

“Mau ke salon!” jawab Sandra jutek. “Mau ke kamar, lah. Dari tadi udah ngantuk nungguin Abang pulang!”

 

 

***

 

 

Di sebuah markas Koplo Gank terdapat lima pemuda berbakat yang sedang membicarakan sesuatu. Koplo Gank yang digawangi oleh Guntur dan beranggotakan Hefri sebagai vokalis, Cupik sebagai gitaris, Desta sebagai bassis, dan Eko sebagai drummer itu adalah band beraliran punk yang cukup terkenal di kota mereka. Koplo Gank amat termasyhur di kalangan anak Kopedan, sebutan bagi pecinta Koplo Gank.

 

“Lumayan juga honor manggung kita kemarin,” ujar Guntur sambil menghitung uang.

 

“Sampe gue lupa mesti jagain adik gue,” sergah Herfi yang masih menyesal.

 

“Itung-itung bisa nambahin buat beli benda impian Sandra,” ujar Eko.

 

“Iya juga, sih.” Hefri manggut-manggut setuju.

 

“Ini bagian elu, Des.” Guntur lalu memberikan sejumlah uang pada Desta. “Ini bagian Cupik, Eko, dan Hefri.” Guntur membagikan sejumlah uang yang nilanya sama. “Dan ini yang terakhir bagian gue. Seperti biasa, duitnya udah gue itung dan gue bagi sama rata.”

 

“Thanks ya, Gun. Akhirnya gue bisa beli benda impian Sandra.”

 

“Sama-sama, bro. Ini kan berkat elu juga. Performance elu kemarin itu oke banget dan kita dapat banyak applaus dari penonton,” ujar Guntur sambil menepuk bahu Hefri.

 

“Nih, setengah jatah gue buat elu.” Eko menyisihkan uangnya setengah lalu ia berikan pada Hefri.

 

“Eh, apaan nih? Nggak usah, Ek,” tolak Hefri.

 

“Lu ambil aja. Gue ikhlas, kok.”

 

“Setengah jatah gue juga buat elu aja, Hef.” Cupik ikut berpartisipasi.

 

“Punya gue juga. Tapi seperempatnya aja ya, bro,” ujar Desta. “Soalnya gue lagi ada kebutuhan.”

 

“Nah, kalo gue… Semuanya buat elu, deh!” Guntur pun memberikan semua uangnya pada Hefri.

 

Hefri nampak terkejut dan tak percaya. “Ini ikhlas dan tulus dari hati kalian, kan?”

 

“Ikhlas banget!” jawab Eko yang disambut anggukan dari Guntur, Cupik, dan Desta.
“Gue ngerasa nggak enak banget sama kalian.”

 

“Ya elah, Hef. Santai aja kali. Kita kan saudara. Sesama saudara tuh mesti tolong menolong,” jelas Desta bijak.

 

“Koplo Gank kan teman saling berbagi,” ujar Guntur.

 

Hefri terharu. Ia berterima kasih dan langsung menghambur memeluk sahabat-sahabatnya.

 

 

*

 

 

Hefri melangkah menuju toko perhiasan, satu-satunya toko perhiasan yang menjual benda impian Sandra. Setelah tiba di toko perhiasan yang ia tuju, salah satu penjaga toko menyapa Hefri dengan ramah.

 

“Selamat siang, Mas. Mau cari perhiasan apa, ya?”

 

“Saya mau beli kalung yang saya pilih kemarin,” jawab Hefri.

 

“Oh, yang bandulnya liontin bintang itu?” tanya penjaga toko memastikan.

 

Hefri mengangguk. “Mana kalung itu, Mbak?”

 

“Sebelumnya saya minta maaf, Mas. Kalung itu sudah dibeli oleh orang lain,” jelas penjaga toko.

 

“Gimana, nih? Sandra pasti kecewa,” gumam Hefri cemas.

 

“Maaf, saya boleh nuker kalung yang tadi saya beli nggak? Soalnya anak saya berubah pikiran. Anak saya nggak mau yang bandulnya bintang, dia maunya yang bentuk hati.” Tiba-tiba seorang ibu muncul di samping Hefri bersama seorang anak perempuannya.

 

“Maaf, Bu. Barang yang sudah dibeli tidak bisa ditukar kembali,” ujar penjaga toko.
Ibu tersebut nampak kecewa, begitu juga dengan anak perempuannya. Kemudian ibu dan anak itu berjalan meninggalkan toko setelah mengucap terima kasih pada penjaga toko.

 

“Mas, itu lho orang yang beli kalung yang Mas pilih kemarin,” beritahu penjaga toko pada Hefri yang dari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri.

 

“Kenapa nggak bilang dari tadi, Mbak?!” seru Hefri sedikit kesal. “Ya udah, saya kejar ibu itu dulu.”

 

Hefri spontan berlari mengejar ibu dan anak perempuan yang dimaksud oleh penjaga toko.

 

“Bu!” panggil Hefri setelah berhasil mensejajari langkah ibu dan anak perempuan itu.

 

Ibu dan anak perempuan itu pun menghentikan langkah mereka. “Mas manggil saya?”

 

“Iya,” jawab Hefri. “Maaf sebelumnya, Ibu kemarin beli kalung liontin bintang di toko tadi, kan?”

 

“Iya. Memangnya kenapa, Mas?”

 

“Tadi saya dengar Ibu mau nuker kalung itu. Boleh saya membelinya, Bu?” pinta Hefri. “Tolonglah, Bu. Saya ngincer kalung itu udah lama dan kalung itu penting banget buat saya, Bu. Ibu mau jual kalung itu sama saya, kan?”

 

“Oh, boleh-boleh. Lagian anak saya nggak suka. Kalau kalung ini emang penting buat Mas, ya silahkan.”

 

“Beneran, Bu?” Ibu itu mengangguk sambil tersenyum. “Makasih ya, Bu.”

 

 

*

 

 

Malam harinya, Hefri pulang membawa benda impian Sandra. Dengan wajah sumringah, ia masuk ke kamar Sandra.

 

“SANDRA!”

 

“Kalau mau masuk ketok pintu dulu, dong!” Sandra nyaris meloncat dari ranjangnya.

 

“Sorry, deh. Abis gue lagi happy banget.” Hefri hanya bisa nyengir kuda dan mengambil posisi duduk di sebelah Sandra.

 

“Happy sih happy, tapi jantung Sandra hampir copot tahu!” ujar Sandra ketus.

 

“Kalo copot kan bisa dipasang lagi,” ledek Hefri yang membuat Sandra geleng-geleng kepala heran.

 

“Ada apaan, Bang? Kenapa tiba-tiba ke kamar Sandra?”

 

“San…”

 

“Ya?”

 

“Gue kebelet boker.”

 

“HAH?!” Sandra melongo.

 

Hefri lalu tertawa. “Nggak. Gue bercanda, kok.”

 

Sebuah bantal guling melayang mencium wajah tampan Hefri. Hefri hanya cengengesan, lalu merubah ekspresinya menjadi serius.

 

“Gue mau jujur sama elu, San,” ujar Hefri pelan. Raut wajahnya terlihat benar-benar sangat serius.

 

“Tentang apa?” tanya Sandra heran. “Abang kan selalu jujur sama Sandra.”

 

“Kalo gue ngejelasin semuanya, lu mau maafin gue, kan?”

 

“To the point aja deh, Bang. Nggak usah bikin Sandra jadi bingung,” ujar Sandra penasaran.

 

“Sebenernya, barang-barang elu yang hilang mulai dari kaos kaki, slayer, gelang, dasi, sampai rok merah kotak-kotak lu itu gue yang ambil, San.”

 

Sandra sangat terkejut dengan pengakuan kakaknya. “Itu kan barang-barang cewek, Bang! Kenapa Abang ngelakuin itu semua?!”

 

“San, tenang dulu. Gue bisa ngejelasin semuanya. Itu semua nggak seperti yang lu pikirin,” ujar Hefri berusaha menenangkan emosi Sandra sekaligus menjelaskan alasan kenapa ia bisa melakukan itu semua pada adiknya itu. “Barang-barang lu yang gue ambil tuh gue pake buat manggung. Lu tahu sendiri gue punya band yang beraliran punk. Untuk mendukung penampilan gue, terpaksa gue pinjem barang-barang lu itu, soalnya nggak mungkin kalo gue beli barang-barang kayak gitu. Denger ya, San, gue cuma pinjem!”

 

“Minjem kok nggak ijin? Itu sama aja namanya nyolong,” dengus Sandra kesal.

 

“Gue bakalan balikin semua barang-barang lu yang gue ambil. Dan sebagai gantinya…” Segera tangan Hefri merogoh saku jaketnya. Kini di tangannya sudah terdapat kado berbentuk kubus ukuran mini yang diberi aksen pita merah.

 

“Ini apaan, Bang?” tanya Sandra yang masih kesal dengan kakaknya itu. Hefri menjatuhkan kado mungil itu ke telapak tangan Sandra. “Ini buat Sandra, Bang?”
Hefri hanya mengangguk pelan. Sandra segera membuka kado mungil itu.

 

Sandra menganga tak percaya dengan isi kado itu. “Ini, kan…”

 

“Kalung liontin bintang yang lu penginin dari dulu,” sela Hefri.

 

“Bang…” mata Sandra berkaca-kaca. “Ini… serius buat Sandra?”

 

Hefri mengangguk. “Gue beli itu dengan keringat gue, San. Maafin gue kalo akhir-akhir ini gue sering pulang malem. Gue berusaha keras buat dapetin uang biar bisa beli kalung impian lu, San. Karena gue sayang sama lu, sama Ayah juga.”

 

Air mata Sandra tak bisa dibendung lagi. Ia memeluk kakaknya. “Sandra juga sayang sama Abang dan Ayah. Maafin Sandra juga kalo Sandra sering ngerepotin Abang.”

 

“Lu nggak pernah ngerepotin gue, San.” Hefri mengelus punggung Sandra. “Gue malah seneng jadi kakak yang bisa diandelin sama adiknya.” Hefri melepas pelukan mereka. “Sini gue pakein kalungnya.”

 

Sandra mengangguk. Kemudian Hefri memakaikan kalung liontin bintang itu di leher jenjang adiknya.

 

“Makasih ya, Bang,” ujar Sandra tersenyum sambil menyentuh liontin bintangnya.

 

“Coba lu buka liontinnya,” pinta Hefri.
Sandra pun menurut. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat foto yang ada di dalam liontin bintangnya itu.

 

“Ini…” Sandra speechless. Tidak ada kalimat yang bisa ia ucapkan saat ini. Ia sangat terharu dengan kejutan-kejutan kakaknya.

 

“Foto Ayah dan almarhumah Bunda. Dan juga foto kita berdua.”

 

Sandra kembali memeluk kakaknya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menangis bahagia sambil memeluk kakaknya dengan sangat erat.

 

 

 

-the end-

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s