Akhir Yang Menyakitkan

 

 

tertawa di awal dan menangis di akhir

hanya membuat sakit sepanjang hari ke depan

kebahagiaan di awal tidak lah berarti

 

luka itu tidak akan pernah terobati

walau hanya segores yang sepele

kebahagiaan di awal tidak lah berarti

 

menangis meraung sepanjang hari ke depan

walau hanya segores yang sepele

tapi apa daya jika itu menyakitkan

dan tak ada seorang pun yang memahami

 

kebahagiaan di awal tidaklah berarti

jika setelahnya kesedihan yang mendominasi sampai akhir

 

 

 

 

Rasa Yang Terpendam

 

 

 

senyum tertahan terlukis di bibirku
beribu kupu-kupu menggelitik dalam perutku
suhu badanku terasa hangat di kala cuaca dingin

 

melihat tulisan namamu saja aku sudah bahagia, Ge
mendengar kabar tentangmu aku merasa tenang, Ge
melihat gambarmu saja aku tersenyum terpesona, Ge

 

andai aku bisa melihatmu secara langsung
mungkin aku akan beteriak seperti orang gila
atau bahkan langsung jatuh pingsan?

 

 

 

Wish

 

 

 

aku lelah berdo’a pada Tuhan

aku lelah menunggu permintaanku dikabulkan oleh Tuhan

aku sangat lelah…

aku hanya mempunyai satu permohonan yang sederhana

tapi kenapa Tuhan lama sekali mengabulkan permintaanku?

 

“Kau hanya perlu bersabar. Tuhan itu sangat sibuk. Kau pikir hanya kau saja yang meminta sesuatu pada Tuhan? Binatang, tumbuhan, malaikat, bahkan iblis pun mempunyai permintaan pada Tuhan.”

 

ya, aku tahu itu

aku sadar, bukan hanya aku saja, tapi banyak makhluk di luar sana yang sama sepertiku

bersabar dan terus memohon

menunggu Tuhan mempertimbangkan permintaanku

dan akhirnya mengabulkannya

walau entah kapan itu akan terjadi

 

 

 

Ternyata

 

 

 

 

pernahkah merasakan menjadi aku?

mencari sebuah cinta yang tak pasti

mengembara kesana kemari tak berujung

berulang kali jatuh bangkit dan mungkin mati

 

aku sangat bodoh

bagaimana bisa aku membiarkanku

selalu terpuruk sampai hati menjadi kaku

 

kau memang bodoh

bagaimana bisa kau tak melihatku

 

aku memang sangat bodoh

bagaimana bisa aku tak melihatmu

 

jadi, untuk apa semua itu kulakukan

jika ternyata yang kucari adalah dirimu

 

jadi, untuk apa selama ini kau diam

jika ternyata yang kau cari adalah diriku

 

 

 

Tak Ada Rasa

 

 

benarkah aku tak lagi merasakan?

indahnya cintamu yang dalam

kasih sayangmu yang tulus

kepedulianmu yang besar

 

lalu, ada apa denganku jika iya?

 

mungkinkah rasa ini telah mati?

ataukah aku yang tak mengerti?